Galeri Film

Counter

Pengunjung :
97258
TodayToday147
This MonthThis Month4279
All DaysAll Days97258

Arsip

Powered by ArtTree
PDF

Tanaman Hias Penangkal Polusi Ruangan

 

Pencemaran udara, bukan hal baru bagi masyarakat, terutama yang tinggal di perkotaan. Masyarakat kota, umumnya pergi ke pedesaan untuk memperoleh kesejukan udara. Namun bagaimana kualitas udara dalam ruangan?

Ruangan rumah, sekolah, ataupun kantor ternyata belum tentu aman dari polusi. Bila di luar ruangan ada asap kendaraan bermotor, pabrik dan gunungan sampah, di dalam ruangan polusi disebabkan asap rokok, pembakaran oleh peralatan rumah tangga, hingga radiasi dari berbagai peralatan elektronik. Tiap polutan beresiko bagi kesehatan manusia.

Beberapa polutan dalam ruangan yang beresiko bagi kesehatan, antara lain berikut ini :

BAHAN SUMBER RESIKO
Benzene Asap rokok, produk petrokimia, serat sintetis, plastik, tinta dan pewarna kain, Produk dari bahan karet, deterjen, karet. Penyebab kanker, iritasi kulit dan mata, sakit kepala, kelelahan.
Trichloroethylene Tinta dan pewarna kain, Lem, Cat, Pernis. Liver
Formaldehyde Kayu lapis, triplek, karpet, furniture, produk kertas, bahan pembersih, pengharum ruangan, plastic, asap rokok. Iritasi mata, hidung, tenggorokan, dan sakit kepala.
Karbonmonoksida (CO) Asap rokok, kendaraan bermotor dihidupkan di garasi rumah atau kantor. Ketika 10 sampai 30 persen dari molekul hemoglobin bercampur dengan karbonmonoksida, timbul gejala pening dan sakit kepala, disertai dengan kaburnya penglihatan dan rasa mual. Persentasi karbonmonoksida yang lebih tinggi lagi mengakibatkan hilangnya kesadaran, melemahnya aktivasi jantung, koma, bahkan kematian.

 Sumber : http://www.epa.gov/iaq, http://www.virginia.gov

Mengatasi polusi udara dalam ruang, dapat menggunakan tanaman hias. Selain bermanfaat sebagai penyaring polutan, juga mempercantik ruang. Ada sekitar 50 jenis tanaman hias yang telah diidentifikasi mampu menyaring polutan dalam ruang, dua diantaranya diteliti oleh mahasiswa Jurusan Biologi Fakultas MIPA Universitas Brawijaya Malang. Kedua tanaman itu telah banyak dikenal masyarakat, sehingga tak sulit untuk mencarinya, yaitu lidah mertua dan sri rejeki. Mokhammad Sofyan dan rekan-rekannya meneliti potensi kombinasi lidah mertua dan sri rejeki sebagai alternatif penetralisir polusi udara di dalam ruangan.

Lidah Mertua dikenal pula dengan nama sanseviera. Daun-daun sanseviera tumbuh langsung dari rimpang akar di dalam tanah. Bentuk daunnya seperti pedang, dengan kombinasi warna hijau, hijau putih, maupun hijau kuning. Lidah mertua tahan disimpan dalam ruangan, karena dapat tumbuh dalam kondisi sedikit air dan cahaya matahari. Daun tumbuhan ini tebal, dan banyak mengandung air, sehingga tahan dengan media tumbuh yang kering. Penelitian yang dilakukan oleh Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA), bahwa lidah mertua mengandung bahan aktif pregnan glikosid, yang berfungsi mengurai polutan menjadi asam organik, gula, dan asam amino. Dengan demikian polutan tersebut tak lagi berbahaya bagi manusia. Selain itu, diketahui pula lidah mertua mampu menyerap radiasi dari berbagai peralatan elektronika yang ada di dalam ruangan. Sehingga radiasi tak berbahaya bagi kesehatan penghuni ruangan.

Sri rejeki (Dieffenbachia seguine) juga punya manfaat layaknya lidah mertua. Tanaman hias yang satu ini mulai populer dengan nama Aglaonema, mengatasi berbagai polutan dengan senyawa phytochemical. Phytochemical adalah senyawa-senyawa kimia, seperti beta karoten yang secara alamiah terkandung di dalam tanaman. Phytochemical Aglaonema dilepaskan saat fotosintesa dan memiliki efek anti bakteri, menekan pertumbuhan spora jamur dan bakteri merugikan. Hasil penelitian Associated Landscape Contractor of America, ditemukan bahwa phytochemical mampu menekan populasi bakteri dan spora jamur merugikan hingga 50-60%. Selain itu, phytochemical juga mengurangi rasa sakit, membantu konsentrasi, menghilangkan rasa lelah dan mengurangi tekanan mental.

Penelitian yang dilakukan oleh Mokhammad Sofyan dan rekan-rekannya, merekomendasikan pemanfaatan tanaman lidah mertua dan sri rejeki di dalam ruangan, sebagai pengganti fungsi Air Conditioner (AC) bersistem plasmacluster. Kedua tanaman ini tentunya tak membutuhkan listrik dan biaya yang mahal. Selain itu, mengurangi penggunaan AC pun turut mengurangi potensi pemanasan global. AC menghasilkan panas tiga kali lebih banyak dari dingin yang ditimbulkan.

Selain sri rejeki dan lidah mertua, tanaman puring yang daunnya berwarna-warni kini diketahui juga sebagai penyerap berbagai polutan, yang berasal dari asap rokok, bensin, pembakaran kayu, dan uap terpentin. Formaldehyde dan karbondioksida adalah jenis polutan yang dapat terserap oleh puring. Bahkan, berdasarkan penelitian yang dilakukan Dr. Ir. Suparwoko dan Ir. Feris dari Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, puring merupakan tanaman yang memiliki daun paling baik dalam menyerap unsur timah hitam, sebanyak 2,05 mg/liter. Timbal termasuk salah satu logam berat. Timbal bisa menyebabkan kerusakan otak, darah, ginjal, dan hati yang tidak dapat disembuhkan. Puring dapat tumbuh baik di dalam ruangan, dengan intensitas cahaya matahari 50-80 %. Mengetahui manfaat tanaman-tanaman ini, mari isi ruangan dengan berbagai tanaman dan hindari ketergantungan pada AC. (disadur dari berbagai sumber).*devi